Ketua TP PKK Kota Probolinggo Dorong Ekonomi Keluarga Lewat Inovasi Suvenir Kain Perca Batik
Ketua TP PKK Kota Probolinggo, Dokter Evariani, membuka secara resmi Pelatihan Pembuatan Suvenir Berbahan Kain Perca Batik, Selasa (7/4) di Rumah Batik, Jalan Mastrip. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis dalam mendorong pemberdayaan masyarakat berbasis keterampilan kreatif sekaligus penguatan ekonomi keluarga.
KANIGARAN – Ketua TP PKK Kota Probolinggo, Dokter Evariani, membuka
secara resmi Pelatihan Pembuatan Suvenir Berbahan Kain Perca Batik,
Selasa (7/4) di Rumah Batik, Jalan Mastrip. Kegiatan ini menjadi bagian
dari upaya strategis dalam mendorong pemberdayaan masyarakat berbasis
keterampilan kreatif sekaligus penguatan ekonomi keluarga.
Dokter Evariani menegaskan bahwa kunci keberhasilan pemberdayaan UMKM
terletak pada kolaborasi lintas lembaga yang terintegrasi. Ia menyebut,
pelatihan ini bukan sekadar kegiatan peningkatan keterampilan,
melainkan bagian dari pembangunan ekosistem ekonomi kreatif berbasis
komunitas.
“Kolaborasi strategis antar lembaga harus terus kita perkuat. Melalui
sinergi sumber daya, pelatihan keterampilan, dan akses pasar yang
terintegrasi, kita ingin masyarakat mampu mengolah limbah tekstil
menjadi produk bernilai ekonomi tinggi,” ujarnya.
Kolaborasi
tersebut melibatkan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (DKUP)
Kota Probolinggo, dan Tim Penggerak PKK. DKUP memberikan dukungan
anggaran melalui APBD, sementara PKK melalui Pokja 2 menggerakkan
masyarakat hingga ke tingkat akar rumput melalui kelompok Dasa Wisma.
Pelatihan ini mengutamakan praktik langsung bagi peserta, di mana
peserta yang terdiri dari kader PKK se-Kota Probolinggo ini, langsung
dilatih mengolah limbah kain perca menjadi produk kreatif. Dalam
kegiatan ini menghadirkan narasumber dari UD Griya Srikandi sekaligus
mitra dalam pengelolaan hasil produksi.
“Dari limbah yang sering dianggap tidak bernilai, kita dorong menjadi
produk unggulan yang memiliki daya saing. Inilah bentuk inovasi kreatif
yang harus terus dikembangkan,” tambah Evariani.
Lebih dari itu, dukungan terhadap pemasaran produk turut diperkuat.
Melalui Dekranasda dan Rumah Batik, produk hasil pelatihan akan dipajang
di galeri atau showroom, serta dipromosikan melalui katalog yang
menyasar pasar lebih luas, termasuk vendor pernikahan. Skema ini membuka
peluang kemitraan berkelanjutan, sehingga peserta memiliki jalur
distribusi yang jelas setelah pelatihan selesai.
“Dengan
adanya galeri dan katalog promosi, kita membuka akses pasar yang lebih
luas. Produk masyarakat harus bisa menembus pasar, tidak berhenti di
pelatihan saja,” jelasnya.
Pemanfaatan kain perca batik sendiri dinilai memiliki potensi ekonomi
yang signifikan. Selain meningkatkan nilai tambah dari limbah tekstil,
produk yang dihasilkan dapat beragam, mulai dari suvenir pernikahan,
aksesoris fashion, hingga cendera mata khas daerah. Hal ini tidak hanya
membuka peluang usaha baru, tetapi juga memperkuat identitas ekonomi
lokal.
Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, peran PKK menjadi sangat
krusial sebagai ujung tombak di tingkat keluarga dan lingkungan
masyarakat. Melalui kelompok ini, keterampilan yang diperoleh dari
pelatihan dapat disebarluaskan, dipraktikkan secara berkelanjutan, serta
dikembangkan menjadi usaha bersama yang mampu memenuhi kebutuhan pasar
dalam skala lebih besar.
“Kita ingin kader PKK tidak hanya aktif secara sosial, tetapi juga
produktif secara ekonomi. Dari sinilah lahir industri rumah tangga yang
kuat dan berkelanjutan,” tegas ketua TP PKK.
Dengan pendekatan berbasis komunitas tersebut, pemberdayaan tidak
hanya berdampak pada individu, tetapi juga menciptakan perputaran
ekonomi yang lebih luas di masyarakat. Setiap aktivitas sosial diarahkan
menjadi kegiatan produktif yang memberikan nilai tambah bagi
kesejahteraan keluarga.
Sementara
itu, Kepala Bidang Usaha Kecil dan Mikro pada DKUP, Sri Lestari,
menyampaikan bahwa pelatihan ini diikuti oleh 50 kader PKK. Kegiatan ini
bertujuan meningkatkan keterampilan kreatif peserta sekaligus
mengoptimalkan pemanfaatan limbah kain perca batik menjadi produk
kerajinan bernilai ekonomi dan memiliki daya saing pasar.
Selain itu, kegiatan ini juga dirancang untuk menumbuhkan jiwa
kewirausahaan serta mendorong lahirnya produk khas daerah yang inovatif.
“Pelatihan ini merupakan langkah strategis pemerintah daerah dalam
memberikan pemberdayaan sekaligus perlindungan ekonomi bagi pelaku usaha
mikro. Harapannya, para peserta tidak hanya terampil, tetapi juga mampu
mengembangkan usaha secara mandiri dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Secara keseluruhan, kegiatan ini mencerminkan komitmen Pemerintah
Kota Probolinggo dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis komunitas,
kreativitas, dan keberlanjutan. Diharapkan, dari pelatihan ini akan
lahir pelaku UMKM baru yang inovatif, berdaya saing, serta mampu
memperkuat ekonomi lokal Kota Probolinggo. (mir/fa)