KANIGARAN - Peluncuran Jenama Kota,
Probolinggo Kota Bersolek sekaligus menjadi Kilas Prestasi Satu Tahun
Kepemimpinan Wali Kota Dokter Aminuddin dan Wakil Wali Kota Ina Dwi
Lestari, yang telah menunjukkan berbagai capaian pembangunan di berbagai
sektor. Dengan semangat “BERSOLEK”, Pemerintah Kota Probolinggo
optimistis dapat terus memperkuat identitas daerah sekaligus mendorong
partisipasi aktif masyarakat dalam membangun kota yang lebih maju dan
berkelanjutan.
Di tahun pertama kepemimpinannya bersama Wakil Wali Kota Ina Dwi
Lestari difokuskan pada pembangunan fondasi yang kuat sebagai pijakan
arah pembangunan ke depan. Bagi Wali Kota Dokter Aminuddin, kepercayaan
masyarakat tidak cukup dijawab dengan janji, melainkan harus dibuktikan
melalui kerja nyata yang dirasakan langsung oleh warga Kota Probolinggo.
“Kami menyadari masyarakat tidak hanya membutuhkan janji, tetapi
bukti. Karena itu, program prioritas kami pastikan mulai diwujudkan
secara nyata,” ungkapnya.
Untuk memastikan kebijakan yang diambil benar-benar tepat sasaran,
pendekatan pembangunan dilakukan dengan turun langsung ke lapangan.
Bahkan di awal masa jabatan, wali kota memilih berkantor di sejumlah
kelurahan guna melihat secara langsung kondisi riil masyarakat sekaligus
menyerap aspirasi warga tanpa sekat birokrasi.
Langkah tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari perubahan pola
kerja pemerintahan yang lebih responsif dan adaptif terhadap kebutuhan
masyarakat. Pemerintah tidak lagi hanya bergantung pada laporan
administratif, tetapi hadir secara nyata di tengah warga untuk
memastikan setiap program berjalan efektif.
Berbagai
capaian berhasil diraih, termasuk 53 penghargaan tingkat regional dan
nasional. Salah satu capaian paling menonjol adalah keberhasilan meraih
penghargaan Menuju Kota Bersih dari Kementerian Lingkungan Hidup atas
keberhasilan penilaian Kinerja Pengelolaan Sampah.
“Dari 518 kabupaten/kota yang diseleksi selama tiga bulan secara
ketat dan tanpa pemberitahuan, Kota Probolinggo berhasil masuk 34 besar.
Ini adalah bukti kerja nyata, bukan rekayasa,” tegasnya.
Tak hanya itu, upaya penanganan lingkungan juga berdampak signifikan
pada kesehatan masyarakat. Pemerintah berhasil menurunkan pencemaran
mikroplastik hingga lebih dari 50 persen serta menghapus kontaminasi
bakteri E.coli di sejumlah aliran sungai, melalui berbagai program
sanitasi dan penghapusan praktik buang air besar sembarangan (open
defecation).
Penyediaan layanan kesehatan yang lebih inklusif, salah satunya
dengan menghadirkan klinik lansia, sebagai bagian dari upaya memberikan
perhatian khusus kepada kelompok usia lanjut, sekaligus memperkuat
layanan kesehatan dasar di tengah masyarakat.
Di sisi lain, inovasi yang menonjol adalah penggunaan perangkat jam
tangan pintar untuk memantau kondisi ibu hamil secara real-time. Para
tenaga medis dapat memantau kondisi vital seperti tekanan darah secara
berkala, sehingga potensi risiko dapat dideteksi lebih dini. Hasilnya,
angka kematian ibu hamil yang sebelumnya berada di angka lebih dari
delapan kasus, berhasil ditekan secara signifikan menjadi hanya 2 kasus
pada tahun 2025.
Digitalisasi ini terintegrasi dengan kebijakan pemerintah yang
menggunakan data riil sebagai dasar pembangunan. Melalui chip dashboard
yang dibuat oleh setiap Perangkat Daerah, perkembangan dan pencapaian
program kesehatan dapat dipantau dari bulan ke bulan.
“Keberhasilan ini sekaligus mengantarkan Kota Probolinggo meraih
predikat sebagai Kota Sehat pada akhir November lalu, sebagai pengakuan
atas komitmen pemerintah dalam membangun lingkungan yang bersih, sehat,
dan berkelanjutan,” ungkap wali kota.
Dalam
sektor ekonomi, pertumbuhan ekonomi Kota Probolinggo mencapai 5,85
persen pada 2025, termasuk tertinggi di Jawa Timur, dengan penurunan
gini rasio sekitar 0,33 sebagai indikator pemerataan kesejahteraan.
“Pertumbuhan ekonomi kita tidak hanya tinggi, tetapi juga diikuti
penurunan ketimpangan. Ini yang paling penting, kesejahteraan harus
dirasakan merata,” jelasnya.
Selain itu, geliat ekonomi lokal juga semakin kuat melalui
pemanfaatan potensi daerah melalui berbagai event pada tahun 2025 (340
event).
Dalam aspek pendidikan, Pemerintah Kota Probolinggo menargetkan
peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) hingga di atas 80 pada
tahun 2026. Untuk mencapai target tersebut, harus fokus pada peningkatan
rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah yang masih tergolong
rendah. Sejumlah program prioritas pun mulai dijalankan sejak awal tahun
2026, salah satunya melalui penuntasan anak putus sekolah (APS).
Program ini memastikan bahwa anak-anak yang belum menyelesaikan
pendidikan formal tetap mendapatkan akses belajar melalui jalur
pendidikan kesetaraan. Anak yang belum tamat SD diarahkan mengikuti
paket A, tingkat SMP melalui paket B, dan tingkat SMA melalui paket C.
Pemkot juga mulai mendorong penerapan wajib belajar 13 tahun dengan
memperkuat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai fondasi awal
pembelajaran.
Di sisi lain, pemberian beasiswa juga menjadi langkah strategis untuk
menekan angka pengangguran terbuka, khususnya di kalangan lulusan SMA
yang belum melanjutkan pendidikan maupun belum terserap di dunia kerja.
“Kami sudah menyiapkan anggaran beasiswa, karena salah satu tantangan
kita adalah pengangguran terbuka yang banyak diisi lulusan SMA yang
tidak melanjutkan kuliah dan belum siap kerja. Ini yang kita intervensi
melalui pendidikan,” jelas Dokter Amin.
Berbagai terobosan juga dilakukan untuk memperkuat posisi Kota
Probolinggo sebagai kota transit, penyangga pelabuhan, dan gerbang
menuju kawasan wisata Bromo. Upaya ini dilakukan melalui inovasi
pembangunan, peningkatan konektivitas, serta pengembangan proyek-proyek
strategis yang berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi daerah.
Salah
satunya adalah keberhasilan menghadirkan layanan kereta komuter yang
semakin memperkuat konektivitas wilayah. Penguatan konektivitas tersebut
menjadi bagian dari strategi besar dalam mengoptimalkan tiga potensi
utama Kota Probolinggo. Langkah konkret lainnya yang dilakukan adalah
pembentukan Perseroda berbasis maritim sebagai upaya memperkuat peran
daerah dalam aktivitas kepelabuhanan.
“Hasilnya, sejumlah program nasional mulai terealisasi. Di antaranya
pembangunan sekolah rakyat yang hanya dipercayakan kepada sebagian kecil
daerah di Indonesia. Program pemberdayaan ekonomi juga diperkuat
melalui pembentukan koperasi merah putih di seluruh kelurahan,
menjadikan Kota Probolinggo sebagai salah satu daerah yang mampu
merealisasikan koperasi secara menyeluruh hingga tingkat bawah,” urai
Dokter Amin.
Di sektor pariwisata, Pemkot juga terus mengembangkan potensi daerah
sebagai pintu masuk menuju Gunung Bromo. Tren kunjungan wisatawan yang
menginap di Kota Probolinggo pun menunjukkan peningkatan signifikan
dalam satu tahun terakhir. Rencananya, akan dikembangkan 100 destinasi
wisata dalam lima tahun ke depan, dari yang saat ini telah terdata
sekitar 76 destinasi.
Selain itu, sejumlah proyek besar juga tengah dipersiapkan, seperti
pembangunan kampung nelayan dengan nilai investasi ratusan miliar
rupiah. “Melalui berbagai kreativitas dan inovasi ini, kami ingin
memastikan seluruh potensi Kota Probolinggo bisa berkembang optimal.
Tujuannya jelas, menghadirkan investasi, membuka lapangan kerja, dan
mendorong kemandirian ekonomi daerah,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, juga diberikan penghargaan Perangkat Daerah
dengan Kinerja Terbaik tahun 2025. Yang dimenangi Dinas Komunikasi dan
Informatika, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan serta
Kecamatan Wonoasih. Sedangkan kategori kelurahan diraih Kelurahan
Sukabumi, Wiroborang dan Triwung Lor. (mir/fa)