PROBOLINGGO - Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 H / 2026 M,
Pemerintah Kota Probolinggo monitoring dan evaluasi bahan pokok dan
barang penting (Bapokting), Selasa (10/3) pagi. Monev dibagi menjadi dua
tim yang masing-masing dipimpin Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin
bersama Wawali Ina Dwi Lestari.
Langkah ini dilakukan sebagai upaya pemerintah daerah dalam
mengantisipasi potensi lonjakan harga dan menjaga stabilitas inflasi,
khususnya menjelang momen lebaran yang identik dengan meningkatnya
kebutuhan masyarakat.
“Ini menindaklanjuti upaya pengendalian inflasi yang sudah kita
lakukan sebelumnya. Kita tidak ingin inflasi semakin tinggi menjelang
Lebaran, apalagi Jawa Timur termasuk daerah dengan tingkat inflasi yang
cukup tinggi. Karena itu kita pastikan dulu dari sisi pasokan,” ujar
wali kota.
Dari
hasil pemantauan di Pasar Baru, Dokter Amin memastikan stok bahan
pangan masih dalam kondisi aman. Namun demikian, terdapat beberapa
komoditas yang mengalami kenaikan harga, salah satunya cabai.
“Alhamdulillah stok tidak ada masalah. Tapi memang ada beberapa
komoditas yang mempengaruhi inflasi, seperti cabai yang naik sekitar
Rp2.000 dibandingkan minggu lalu,” jelasnya.
Temuan tersebut nantinya akan dilaporkan kepada Kementerian Dalam
Negeri untuk dikoordinasikan lebih lanjut dengan pemerintah provinsi
serta kabupaten/kota lain di Jawa Timur guna mencari solusi bersama.
Selain pangan, wali kota juga meninjau ketersediaan BBM di SPBU
Kasbah untuk mengantisipasi dampak situasi geopolitik global terhadap
pasokan energi. “Kita juga memantau karena ada perubahan geopolitik di
Timur Tengah. Kita ingin memastikan stok BBM tetap aman. Dari pantauan
tadi, tidak ada antrean dan stok masih cukup,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa harga BBM jenis Pertamax mengalami kenaikan dari
Rp11.800 menjadi Rp12.300 per liter. Meski demikian, stok BBM
bersubsidi tetap aman dan tidak mengalami gangguan. “Kita ingin
memastikan tidak ada kepanikan masyarakat yang kemudian
berbondong-bondong membeli bahan bakar atau bahan pokok,” tegasnya.
Berdasarkan hasil pantauan di Pasar Baru, harga sejumlah bahan pokok
terpantau relatif stabil. Beras kemasan 5 kilogram dijual sekitar Rp78
ribu, beras kualitas medium Rp73 ribu per 5 kilogram, cabai merah
Rp90–95 ribu per kilogram, telur ayam Rp29–30 ribu per kilogram, daging
sapi Rp115–120 ribu per kilogram, serta daging ayam sekitar Rp40 ribu
per kilogram.
Sementara
itu, Asisten Manajer Penjualan Pertamina Malang Habibi, menjelaskan
bahwa penjualan BBM hingga saat ini masih berada dalam kondisi normal
dan belum terjadi lonjakan permintaan yang signifikan.
Menurutnya, Pertamina telah menyiapkan strategi khusus menjelang masa
mudik Lebaran, termasuk penambahan pasokan untuk jenis bahan bakar
tertentu. “Untuk saat ini penjualan masih normal dan stok aman. Kami
juga sudah menyiapkan peningkatan suplai untuk mengantisipasi kebutuhan
perjalanan masyarakat saat mudik,” ujarnya.
Di sisi lain, konsumsi biosolar diprediksi akan mengalami penurunan
karena berkurangnya aktivitas kendaraan besar selama masa libur Lebaran.
Secara keseluruhan, pihak Pertamina memastikan ketersediaan energi bagi
masyarakat tetap terjaga sehingga perjalanan mudik dapat berlangsung
dengan aman dan lancar.
Wawali Ina Sasar Pasar dan Distributor Ayam Potong-Telur
Sementara
itu, di lokasi berbeda, Wawali Ina Dwi Lestari didampingi Pj. Sekda Rey
Suwigtyo dan Tim Satgas Pangan menyasar ke distributor ayam potong di
Kota Probolinggo UD. Probo Sakti, Jl. Sunan Kalijaga, Sumber Taman. Saat
monev, wawali berdialog langsung dengan pemilik distributor H. Edi
Santoso terkait kondisi pasokan dan harga ayam di tingkat distributor.
Dari hasil pemantauan diketahui bahwa harga ayam broiler mengalami
kenaikan. Hal ini disebabkan karena pasokan ayam yang tersedia saat ini
relatif terbatas, sementara permintaan dari masyarakat terus meningkat
menjelang Lebaran.
Kepada tim satgas, H. Edi Santoso menjelaskan ia mendapat pasokan
ayam broiler dari Blitar dan Jawa Tengah karena stok di daerah peternak
lokal sangat terbatas. Jika tidak mengambil dari luar Jawa Timur, stok
ayam broiler akan kosong seperti yang terjadi tahun-tahun sebelumnya.
“Untungnya ada channel dari Jawa Tengah, kalau tidak begitu tidak ada
stok disini. Harga memang agak tinggi karena ayam kiriman yang di
dapatkan,” ujarnya.
Kemudian
Tim melanjutkan ke Pasar Wonoasih untuk mengecek survei harga di tangan
pedagang. Di Pasar Wonoasih terdapat kurang lebih 5 pedagang ayam
broiler yang mengambil dari berbagai distributor. Di Kota Probolinggo
ada 5 distributor yang menyuplai pedagang pasar, yaitu Totok di
Mayangan; Edi Santoso di Sumber Taman; Hudi di Jrebeng Lor; Misto
Pakistaji dan Sugiono Sumber Wetan.
Nur Azizah salah satu pedagang ayam potong di pasar Wonoasih
menjelaskan, sebelumnya harga ayam potong broiler berkisar Rp
39-40ribu/kg. Namun tiga sampai empat hari lalu, kini kenaikan mulai
merangkak hingga mencapai Rp 42ribu/kg.
Termasuk beberapa komoditi sayuran mengalami kenaikan, diantaranya
wortel biasanya hanya Rp5ribu/kg kini Rp 8ribu/kg, Tomat dari
Rp10ribu/kg kini mencapai Rp 12ribu/kg dan yang masih meroket harga
cabai rawit kini tembus Rp 100/kg. Hal ini dikarenakan beberapa petani
mengalami gagal panen karena faktor cuaca ekstrem masih terjadi
dibeberapa wilayah sedangkan permintaan cukup banyak.
Rangkaian monitoring kemudian dilanjutkan ke lokasi ketiga, yakni
distributor telur ayam yang berlokasik di Jalan KH Abdul Aziz,
Kanigaran. Berbeda dengan beberapa komoditas sebelumnya, hasil
pemantauan menunjukkan bahwa harga dan ketersediaan telur ayam masih
relatif stabil. Distributor memastikan bahwa stok telur ayam masih aman
dan diperkirakan mampu mencukupi kebutuhan masyarakat hingga menjelang
Hari Raya Idul Fitri.
“Kami
dari pemerintah melakukan intervensi kepada para distributor maupun
pedagang agar mereka tidak menaikkan harga terlalu tinggi. Dan rata-rata
harga tinggi karena stok terbatas, faktor cuaca intensitas hujan cukup
sering juga membuat mereka gagal panen terutama untuk komoditi sayur
sehingga harganya cukup melangit. Namun kita akan terus memantau secara
intensif sehingga masyarakat diharapkan tidak perlu panic buying,” ujar
Wawali Ina.
Sebagai langkah antisipatif untuk membantu masyarakat mendapatkan
bahan pangan dengan harga yang lebih terjangkau, Pemkot Probolinggo juga
menyediakan fasilitas Warung Kopi Siaga. Program ini menjadi salah satu
alternatif bagi masyarakat untuk membeli sejumlah produk pangan dengan
harga yang lebih terkendali.
Namun demikian, jumlah komoditas yang tersedia di Warung Kopi Siaga
(Toko Pengendali Inflasi Harga) juga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat
hanya saja stoknya masih terbatas, karena sebagian besar pasokan yang
dijual berasal dari hasil produksi petani lokal.
Giat monev ini juga diikuti oleh Tim Pengendali Inflasi daerah
diantaranya adalah Kepala DKUP, Inspektur, Satpol PP, Kodim 0820, Polres
Probolinggo Kota, Pengadilan Negeri, Kejaksaan Negeri, BPS, Bulog dan
Dinkes P2KB. (dy/dev/fa)