Wali Kota Tegaskan Kolaborasi Inklusif pada Pengukuhan MUI Kota Probolinggo 2025–2030
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo resmi mengukuhkan kepengurusan masa khidmat 2025–2030 yang dirangkai dengan agenda ta’aruf dan rapat kerja, Sabtu (15/2) di Aula MAN 2 Probolinggo. Kegiatan ini menjadi momentum strategis penguatan peran ulama dalam membangun kehidupan keagamaan yang moderat, inklusif, dan responsif terhadap dinamika zaman.
KANIGARAN--Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo resmi
mengukuhkan kepengurusan masa khidmat 2025–2030 yang dirangkai dengan
agenda ta’aruf dan rapat kerja, Sabtu (15/2) di Aula MAN 2 Probolinggo.
Kegiatan ini menjadi momentum strategis penguatan peran ulama dalam
membangun kehidupan keagamaan yang moderat, inklusif, dan responsif
terhadap dinamika zaman.
Kegiatan yang dihadiri Wali Kota Probolinggo, dr. Aminuddin, jajaran
Forkopimda, pengurus MUI Provinsi Jawa Timur, serta ratusan undangan
tersebut tidak sekadar seremoni pengukuhan kepengurusan baru, melainkan
konsolidasi organisasi dalam menyusun arah kebijakan lima tahun ke
depan.
Ketua Panitia Ahmad Hudri, menegaskan bahwa setiap momentum kegiatan
MUI diupayakan semakin berkualitas dari waktu ke waktu, baik dari sisi
substansi maupun tata kelola organisasi.
“Musda
kemarin bukan hanya memilih kepengurusan, tetapi juga merumuskan arah
kebijakan organisasi. Rapat kerja hari ini menjadi forum untuk
menerjemahkan hasil Musda ke dalam program konkret lima tahun ke depan,”
jelasnya.
Jumlah pengurus periode ini tercatat sebanyak 168 orang, bertambah
signifikan dibanding periode sebelumnya. Peningkatan komposisi
kepengurusan ini menurutnya bukan sekadar penambahan jumlah, melainkan
penegasan atas besarnya tanggung jawab yang diemban. Ia juga
menyampaikan apresiasi atas dukungan hibah dari Pemerintah Kota
Probolinggo yang pada tahun ini dialokasikan sebesar Rp 278 juta.
Di kesempatan yang sama, Ketua MUI Kota Probolinggo, Muhammad
Sulthon, menegaskan bahwa pengukuhan bukanlah akhir dari proses
organisasi, melainkan titik awal kerja nyata yang harus segera
diwujudkan dalam bentuk program dan aksi konkret.
“Banyak organisasi setelah dikukuhkan kemudian pasif. Kami berharap
tidak demikian. Apalagi menjelang Ramadan, ini adalah momentum start
yang baik untuk menunjukkan kinerja. Ramadan bukan waktu untuk berdiam
diri, tetapi untuk bergerak,” tegasnya.
Menariknya,
kepengurusan periode 2025–2030 ini juga menunjukkan penguatan peran
perempuan dalam struktur organisasi. Tercatat sebanyak 20 orang
perempuan tergabung dalam Komisi Perempuan, sebuah komposisi yang
dinilai sebagai langkah progresif dalam merespons isu-isu keumatan yang
bersentuhan langsung dengan keluarga, pendidikan, dan pemberdayaan
perempuan.
“Keterlibatan perempuan dalam kepengurusan ini bukan sekadar
pelengkap, tetapi bagian penting dari strategi penguatan organisasi.
Banyak persoalan umat, khususnya yang berkaitan dengan keluarga,
pendidikan anak, dan ketahanan moral, membutuhkan perspektif dan peran
aktif kaum perempuan,” ungkapnya.
Sulton juga menegaskan prinsip independensi organisasi MUI,
menurutnya, harus berdiri di atas nilai-nilai syariat dan kepentingan
umat, tanpa terkooptasi kepentingan politik atau tekanan eksternal.
Sementara, Sekretaris MUI Provinsi Jawa Timur, M. Hasan Ubaidilah
menekankan pentingnya penguatan kelembagaan sebagai fondasi utama dalam
menjalankan fungsi keulamaan secara optimal. Salah satu aspek krusial
yang disoroti adalah kebutuhan kantor permanen sebagai simbol eksistensi
dan kemandirian organisasi.
“Saya
berharap MUI Kota Probolinggo ke depan memiliki kantor permanen yang
representatif. Ini bukan semata-mata soal bangunan fisik, tetapi tentang
penguatan marwah dan kemandirian kelembagaan ulama,” ujarnya.
Menanggapi beberapa hal yang disampaikan oleh Sekretaris MUI Jatim
dan Ketua MUI Kota Probolinggo, Wali Kota Probolinggo, dr. Aminuddin
menegaskan komitmen Pemerintah Kota Probolinggo untuk membangun tata
kelola pemerintahan yang inklusif dan kolaboratif. “Hubungan antara
Ulama dan Umara’ harus terus kita jaga. Pemerintah Kota Probolinggo
terbuka bagi semua, dan sinergi dengan MUI adalah bagian penting dalam
menjaga stabilitas sosial serta membangun karakter masyarakat,” ujarnya.
Ia memastikan dukungan pemerintah terhadap MUI, termasuk melalui
hibah daerah yang pada tahun ini dialokasikan sebesar Rp 278 juta dan
akan diupayakan peningkatannya sesuai kemampuan fiskal daerah.
Lebih
jauh, Wali Kota menyoroti pentingnya adaptasi terhadap perkembangan
teknologi dan dinamika global. Menurutnya, tantangan sosial keagamaan
kini bergerak sangat cepat dan tidak lagi mengenal batas wilayah.
“Ke depan tidak cukup hanya bersikap responsif. Kita harus real time.
Pemerintah kota telah membangun sistem dashboard untuk memonitor
program dan anggaran secara digital. Saya berharap MUI juga dapat
mengembangkan sistem serupa agar respons terhadap persoalan umat lebih
cepat dan terukur,” jelasnya.
Menutup sambutannya, Wali Kota Probolinggo mengucapkan selamat kepada
seluruh pengurus MUI Kota Probolinggo masa khidmat 2025–2030 dan
berharap amanah tersebut dijalankan dengan penuh tanggung jawab demi
kemaslahatan umat dan kemajuan Kota Probolinggo. (mir/pin)